Lihat Ah!

IP

Senin, 27 April 2009

Ujian di Malam Yadnya Kesadha

Ujian di Malam Yadnya Kesadha


indosiar.com, Probolinggo - Kota Probolinggo, Jawa Timur. Disanalah terletak gunung yang sarat pesona mistis, Gunung Bromo. Hamparan laut pasir yang membentang luas di kaki gunung berapi ini tengah ramai, bukan hanya karena kehadiran para wisatawan. Tapi juga karena akan ada sebuah ritual besar umat Hindu Tengger.

Mereka akan mengadakan Yadnya Kasadha, wujud syukur atas karunia Sang Hyang Widhi Wasa. Sebuah hari raya kurban yang turun temurun dilakukan umat Hindu Tengger di Gunung Bromo. Bagi mereka, Gunung Bromo merupakan hila-hila atau tanah suci. Tempat bersemayamnya Sang Hyang Brahma. Tempat untuk memohon berkah. Dalam kesadha kali ini juga akan ada pengukuhan bagi dukun adat Tengger yang baru.

Halaman pendopo agung yang ada di Desa Ngadisari, menjadi pusat acara hiburan tradisional menjelang kesadha. Seperti tari-tarian khas Tengger dan pagelaran reog Singoboyo dan Singamadha yang merupakan turunan dari Reog Ponorogo.

Datangnya yadnya kesadha sudah disambut jauh-jauh hari oleh umat Hindu Tengger yang berjumlah sekitar 130-an ribu jiwa. Seminggu sebelum upacara kesadha berlangsung, aktivitas keseharian seperti bertani sayur-mayur, dihentikan. Termasuk aktivitas perkantoran dan sekolah. Semuanya tertuju menyambut hari besar yang selalu dilaksanakan setiap akhir tahun ini.

Pura Luhur Poten Bromo yang dibangun di kaki Gunung Bromo, merupakan pusat sembahyang umat Hindu Tengger. Jadi tak heran, semua umatnya berduyun-duyun datang ke tempat ini, untuk menghaturkan rasa syukur atas karunia dan rejeki yang telah mereka terima.

Bahkan, para pedagang ikut meramaikan. Puluhan kios berderet di dekat Pura Luhur Poten Bromo, menyajikan berbagai dagangan.

Konon keberadaan para pedagang tersebut menjadi semacam pertanda bagi masyarakat Tengger, apakah hidup mereka selanjutnya akan membaik atau tidak. Jika barang dagangan tidak habis dan pedagang mendapat untung, diyakini ke depan masyarakat Tengger akan makmur. Namun jika barang dagangan habis, itu pertanda musim paceklik akan tiba.

Upacara yadnya kesadha diawali dengan mengambil air suci yang ada di lereng Gunung Widodaren. Jaraknya sekitar 6 kilometer dari Pura Luhur Poten Bromo. Pengambilan air suci ini wajib dilakukan umat Hindu sebelum melaksanakan yadnya kesadha. Umat Hindu Tengger menyebutnya dengan istilah medak tirta (baca: tirte) atau pengambilan air suci.

Selain mengambil air suci, mereka juga melakukan pujaan atau berdoa di goa widodaren, dipimpin dukun adat dari desa masing-masing.

Pembakaran kemenyan dan sesembahan bunga tiga warna atau kembang telon, dilakukan sebagai permohonan ijin kepada Sang Hyang Widi, untuk melaksanakan upacara kesadha. Setelah berdoa, para dukun adat yang berada di Goa Widodaren, melayani umatnya yang ingin melakukan nazar atau meminta sesuatu.

Sambil menunggu giliran bernazar, beberapa warga menampung tetesan air dekat gua. Air yang akan disucikan oleh sang dukun. Kehadiran dukun dalam masyarakat Tengger, bukan sebagai sosok paranormal sebagaimana yang dikenal umumnya. Para dukun ini adalah semacam dukun adat, yang menjadi perantara doa-doa umat Tengger.

Bila ritual di Goa Widodaren ini usai, umat Hindu Tengger yang datang dari berbagai desa ini membawa air suci ke Pura Luhur Poten Bromo, untuk membersihkan pura. Ini biasa terjadi 5 hari sebelum tanggal 14 bulan kesadha, atau bulan kedua belas Tahun Saka. Sedangkan pada saat bersamaan, banyak umat Hindu Tengger yang langsung melakukan ritual kurban ke kawah Gunung Bromo.

Berbagai hasil bumi mereka bawa ke bibir Gunung Bromo melalui 250 anak tangga. Semuanya itu akan dipersembahkan ke kawah Gunung Bromo, sebagai tanda syukur atas karunia yang selama ini diberikan Sang Hyang Widi Wasa. Bukan hanya makanan hasil pertanian dan ternak yang mereka bawa. Uang pun menjadi persembahan.

Ada pemandangan unik saat ritual persembahan ini berlangsung. Puluhan merit atau orang yang mengambil makanan sisa yang dipercaya telah dimakan roh halus, menanti dengan setia di lereng kawah Gunung Bromo. Mereka ini adalah penghuni lereng Gunung Bromo.

Seringkali bahkan sesajian yang dibawa, tidak sempat dilempar ke kawah. Tapi langsung diambil sang merit. Para peziarah pun seperti tak hirau dengan keberadaan para merit. Bagi mereka, yang penting niat untuk melakukan ritual kurban, sebagai ucapan terima kasih pada Sang Hyang Widi Wasa, telah terlaksana.

Mencari Dukun Tengger

Tepat tengah malam, saat bulan purnama kedua belas, arak-arakan ongkek-ongkek atau hasil bumi umat Hindu Tengger, ditandu para dukun dan pembantunya, menuju Cemoro Lawang yang menjadi pintu masuk utama menuju Pura Luhur Poten Bromo, tempat ibadah umat Hindu Tengger.

Udara dingin menusuk tulang saat itu, seperti tidak dirasakan umat Hindu Tengger. Semua tak mau ketinggalan merayakan saat bersyukur ini. Di pintu gerbang Cemoro Lawang, arak-arakan berhenti, meminta ijin masuk ke Pura Luhur Poten Bromo. Upacara ini harus dilakukan sebelum memasuki pura.

Pada malam menjelang yadnya kesadha, ada sebuah ritual yang cukup penting bagi warga Tengger. Yakni pengukuhan Dukun Tengger yang baru. Acara ini biasa disebut dengan Mulunen. Mulunen dilakukan bila dukun sebelumnya meninggal atau sudah tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai dukun. Kali ini, ada 6 calon dukun yang akan diuji. Empat orang berasal dari Pasuruan, dan 2 orang dari Lumajang.

Pengujian di Pura Luhur Poten Bromo ini merupakan tahap paling berat bagi peserta. Dilakukan tepat jam 2 dini hari, saat kabut tebal menutupi pura. Pengujian dilakukan satu persatu, dipandu koordinator dukun Tengger. Sang calon dukun harus membacakan dua bab mantra kesadha tanpa putus, di hadapan para dukun senior dan umat Hindu yang sedang mengikuti acara kesadha.

Bukan ujian yang mudah, karena mantra yang harus diucap bisa 1 jam panjangnya. Bahasanya pun bahasa Jawa kuno. Dukun Tengger dan mantera memang tidak bisa dipisahkan. Para dukun Tengger selalu dimintai mantera oleh warga Tengger yang punya sebuah keinginan.

Setelah mantra dibacakan, sang koordinator dukun meminta kesepakatan kepada para dukun apakah sah atau tidak. Tapi tidak semuanya bisa melalui ujian ini. Walau sang koordinator dukun sudah memberi kesempatan mengulang 3 kali, tapi Marji'in, sang calon dukun ini tetap tak sempurna mengucap mantera.

Akhirnya dari 6 calon dukun yang mengikuti ujian, hanya 5 yang berhasil lulus. Bak sekolahan, para peserta ujian dukun, diberi piagam penghargaan. Ditambah selendang kuning lambang keagungan.

Sementara dari kejauhan, Marji'in, calon dari Pasuruan, hanya bisa melihat teman temannya dari desa lain berhasil meraih gelar dukun. Ketidaklulusannya ini menyebabkan desa yang mencalonkannya tidak akan punya dukun selama satu tahun ke depan. Desanya harus meminjam dukun dari desa lain bila akan melakukan sebuah ritual.

Rasa sesal dan malu sudah pasti dialami Marji'in. Biasanya sebelum berangkat bertarung di Mulunen, sang calon dukun melakukan selamatan dengan seluruh warga yang ada di desanya. Tidak sedikit biaya yang dikeluarkan sang calon dukun, bisa mencapai 3 juta rupiah.

Ujian dalam pengukuhan dukun yang dilangsungkan di depan orang banyak ini tentu bukan bermaksud untuk mempermalukan mereka yang tidak berhasil. Keberanian berhadapan dengan orang banyak dan membacakan mantra tanpa putus sangat penting. Mengingat seorang dukun di Tengger, hidupnya dibaktikan untuk mengucap mantera bagi orang atau umat yang minta didoakan.

Lima dukun telah terpilih dan acarapun dilanjutkan dengan melaksanakan kurban, ke kawah Gunung Bromo. Saat inilah umat Hindu berduyun-duyun memadati tangga menuju bibir kawah Bromo, menghaturkan persembahan mereka.

Sang Dukun Tengger....

Warga Dusun Cemoro Gading, Desa Ngadiredjo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, patut gembira karena kini mereka telah punya dukun adat yang baru. Ialah Sutomo. Salah satu dari 5 dukun yang lulus ujian dalam Mulunen di Pura Luhur Poten Bromo pada malam kesadha tahun ini.

Pria berusia 60 tahun ini merupakan peserta tertua dalam Mulunen kali ini. Sehari-hari ia bekerja sebagai petugas satuan pengaman atau satpam di sebuah perusahaan yang ada di desanya. Tidak ada kenduri untuk merayakan keberhasilannya menjadi dukun adat. Karena selamatan justru sudah dilakukan sebelum berangkat ke tempat ujian. Tiga juta rupiah sudah dihabiskan Sutomo untuk itu.

Sutomo bertanihidup keseharian seorang dukun adat di Tengger, umumnya tidak berbeda dibanding warga lain. Selain jadi satpam, di sela waktu luangnya, Sutomo juga bercocok tanam. Kesibukan sebagai seorang dukun biasanya meningkat pesat menjelang hari raya umat Hindu Tengger. Bisa-bisa 24 jam sang dukun bertugas, karena ia harus mendatangi rumah warga desanya satu persatu untuk memanterakan sesajian.

Sebetulnya Sutomo pernah menyandang predikat dukun Ngadiredjo selama 7 tahun sekitar dua puluhan tahun yang lalu. Namun karena istri Sutomo meninggal dunia, Sutomo berhenti menjadi dukun. Karena status berkeluarga menjadi syarat utama menjadi dukun adat di Tengger.

Sejak saat itu, Sutomo digantikan oleh adiknya. Namun sang adik kini sudah mengundurkan diri, karena tidak kuat lagi mengemban predikat sebagai dukun. Setelah Sutomo memiliki istri, warga Desa Ngadiredjo kembali memilih dirinya sebagai dukun melalui pemilihan secara aklamasi.

Tidak mudah menjadi seorang dukun adat di Tengger. Ada sejumlah syarat yang harus dimiliki, yaitu laki-laki, berkeluarga, lolos dalam pemilihan dukun yang dilakukan oleh warga di desanya. Yang juga tak kalah penting, ia harus menguasai mantera adat dan lolos dalam pengujian dukun pada malam kesadha.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar